Kuala Lumpur, Institut Bakti Nusantara (IBN) terus memperkuat implementasi kerja sama internasional melalui tindak lanjut Nota Kesepahaman (MoU) dengan Majlis Perhimpunan Dagang Malaysia. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini difokuskan pada penguatan kolaborasi industri, pengembangan kewirausahaan, serta peningkatan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu menembus pasar internasional.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh pimpinan Institut Bakti Nusantara, perwakilan Majlis Perhimpunan Dagang Malaysia, pelaku UMKM binaan, dosen, mahasiswa, serta mitra industri dari Indonesia dan Malaysia. Pertemuan ini menjadi langkah strategis dalam merealisasikan berbagai program yang telah disepakati dalam MoU, khususnya pada bidang perdagangan, pemberdayaan UMKM, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta perluasan jaringan pemasaran global.
Rektor Institut Bakti Nusantara, Dr. Fauzi, S.E., M.Kom., M.E., M.Pd., Ak., CA., CMA, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen IBN dalam mendukung internasionalisasi perguruan tinggi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ekonomi masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga harus menjadi penggerak inovasi dan pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat.
“Melalui kolaborasi dengan Majlis Perhimpunan Dagang Malaysia, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi UMKM Indonesia untuk memasuki pasar regional dan internasional. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan inovasi, pendampingan bisnis, digitalisasi usaha, hingga penguatan kapasitas SDM pelaku UMKM,” ujarnya.

Perwakilan Majlis Perhimpunan Dagang Malaysia menyambut baik tindak lanjut kerja sama tersebut. Mereka menilai produk-produk UMKM Indonesia memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar ASEAN apabila didukung dengan standar kualitas produk, sertifikasi, branding, dan strategi pemasaran digital yang tepat. Kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia usaha dinilai menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem bisnis yang berkelanjutan dan berorientasi global. Tren kerja sama Indonesia–Malaysia juga terus diarahkan pada perluasan akses pasar, peningkatan ekspor UMKM, dan penguatan jejaring bisnis lintas negara.
Dalam forum diskusi, kedua belah pihak menyepakati beberapa program tindak lanjut, antara lain pelaksanaan business matching UMKM Indonesia–Malaysia, pendampingan sertifikasi dan legalitas usaha, pelatihan digital marketing internasional, pengembangan produk ekspor, pertukaran pengetahuan kewirausahaan, serta pelaksanaan program magang dan kunjungan industri internasional bagi mahasiswa. Program tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan bagi UMKM binaan untuk memperluas pasar hingga ke Malaysia dan negara-negara ASEAN lainnya.
Selain itu, Institut Bakti Nusantara juga akan melibatkan dosen dan mahasiswa dalam berbagai kegiatan riset terapan, pengabdian kepada masyarakat, serta pendampingan transformasi digital UMKM. Langkah ini sejalan dengan upaya penguatan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan ekonomi daerah.
Melalui penguatan kolaborasi ini, Institut Bakti Nusantara dan Majlis Perhimpunan Dagang Malaysia optimistis dapat menciptakan sinergi yang produktif dalam membangun ekosistem industri dan UMKM yang inovatif, kompetitif, serta mampu bersaing di tingkat global. Kerja sama ini diharapkan menjadi model kemitraan strategis antara perguruan tinggi dan dunia usaha dalam mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN yang berkelanjutan.



